Ah, saya lebih kerap lupa bahwa raihan keberhasilan adalah buah dari depa demi depa apa yang kita gores dan ukir dalam perjalanan hidup ini. Bukan karena nasib baik! Ya, hidup memang bukan sesuatu yang terberi.
Jam masih menunjukkan pukul 00.45 saat saya mulai membuka komputer jinjing butut ini. Sejam lagi leg kedua perempat final Liga Champions antara Liverpool versus Arsenal dihelat. Sembari menunggu partai krusial itu, kupikir, lebih baik menulis catatan ringan.
Sudah sejam ini saya membaca buku Rumah Iklan: Upaya Matari Menjadikan Periklanan Indonesia Tuan Rumah di Negeri Sendiri karya Bondan Winarno. Buku ini baru saja diluncurkan Senin lalu (7/4) di sebuah hotel di kawasan Kuningan, Jakarta. Saya hadir dalam peluncuran sekaligus bedah bukunya. Ada tanda tangan Bondan, jurnalis senior itu, di buku yang saya dapatkan.
Dari sejam membaca buku itu, saya lantas berpikir bahwa hidup ini memang semacam lantai bursa. Bursa saham, maksudnya. Mungkin ini klise. Di buku itu kita dapatkan kisah (alm) Ken Sudarto, pendiri Matari sekaligus tokoh industri periklanan di tanah air, yang jatuh-bangun membangun fondasi dunianya. Menancapkan Matari Advertising di tengah rimba industri periklanan yang kian ganas. Pada bagian lain, saya akan mengisahkan soal Ken, Matari, dan industri periklanan dari masa ke masa. Oya, dari buku itu saya baru tahu kalau dulu produk dipromosikan lewat gerobak-gerobak sapi yang masih banyak berseliweran di jalanan. Jadi, ada semacam pelat seng yang ditempel di gerobak sapi; mirip-mirip dengan tempelan iklim di bus kota yang kini lazim kita temui.
Sekarang saya lebih tertarik untuk menulis soal lantai bursa tadi. Ya, hidup ini memang seperti pasar modal alias bursa saham. Sulit ditebak. Sesaat bearish, tak selang lama menjadi bullish. Mudahnya, kadang menanjak, kadang menurun.
Hidup ini memang kadang di atas, juga kadang di bawah. Saya benar-benar merasakan betapa tipisnya ”atas” dan ”bawah”. Betapa tipisnya batas antara senyum dan air mata. Hampir tak ada pemisah antara kebahagiaan dan kesedihan.
Sepekan lalu, lantai bursa memerah. Harga saham terus terkikis. Indeks harga saham gabungan pun melorot drastis. Bahkan, pada Kamis pekan lalu (3/4), indeks melorot hingga 100 poin. Itu capaian terendah indeks sepanjang 2008.
Seorang analis saham yang namanya sering dikutip media massa, Ikhsan Binarto, menyatakan kepada saya, investor sedang panik. Sebabnya, terjadi penurunan harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terus-menerus secara signifikan. Semua orang tahu, BUMI adalah pemain di lantai bursa dengan kapitalisasi terbesar kedua setelah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. ”Investor lain pun terlihat ikut panik, sehingga menciptakan snowball effect ke saham blue chip lainnya,” ujar Ikhsan. Ya, benar, saham-saham unggulan lain memang ikut terkikis. ”Indeks akan kembali normal lagi jika great sale BUMI selesai,” kata Ikhsan.
Dan memang benar. Begitu BUMI menggeliat awal pekan ini, indeks kembali menguat, meski secara terbatas. Namun, Selasa (8/4), indeks kembali memerah. Ah, memang penuh teka-teki: sesaat bearish, sesaat bullish.
Begitu juga hidup ini. Ada kalanya kita sungguh bahagia. Namun, hanya dalam sekejap ada kejadian yang membuat kita harus bermuram-durja. Ya, karena itu, tak usahlah terlalu mudah kaget dan larut. Enjoy aja.
Meski demikian, hidup ternyata bukan sesuatu yang ”terberi”. Ada rona di sana. Ada semangat di sana. Ada mimpi di sana. Dan, mungkin, ada ambisi di sana.
Namun, hidup adalah apa yang kita ukir hari ini, apa yang kita gores kemarin, dan apa yang kita lakukan lusa. Hidup bukan apa yang ada dalam mimpi kita. Dan karena itu, raihan keberhasilan adalah buah dari depa demi depa apa yang kita ukir dan goreskan dalam perjalanan ini.
Ya, hidup tak bisa diraih dari nasib baik. Karena itu, tactician Liverpool Rafael Benitez percaya sepenuhnya bahwa The Reds akan mampu menggulingkan Arsenal dengan segenap kerja keras mereka. Dia percaya bahwa kemenangan di sepak bola, meski kerap berbau keberuntungan, harus diraih dari tetesan keringat selama 90 menit tanpa henti. Dan, menjadi benar ketika Benitez tak berharap adu penalti.
Peluru muda Arsenal, Theo Walcott, juga paham betul arti kerja keras itu. Walcott, yang merupakan pemain 16 tahun termahal di Inggris, mengerti bahwa gol harus diciptakan dari dua kaki dan tandukan kepalanya yang terus diasah. Bukan karena keberuntungan. ”Saya ingin tampil sebagai starter karena kemampuan saya, bukan karena cederanya Robin van Persie atau Eduardo da Silva,” ujarnya. Dua nama terakhir adalah pemain Arsenal yang lebih sering dapat kesempatan tampil. Namun, kini Eduardo harus istirahat panjang karena cedera parah.
Ah, Walcoot, sungguh nendang pernyataanmu. Saya jadi malu…
Rabu, 2008 April 09
Lantai Bursa
disemai oleh
penunggu fajar
saat
09:21
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
1 komentar:
Aku seneng artikel ini. Er, kayaknya kamu harus lebih banyak nulis artikel ekonomi dengan gaya yang soft. Selama ini, aku selalu berkerut ketika baca artikel berita ekonomi (soal bursa dan lain-lain)...
Tulisan tambang Bondan Winarno atau privatisasi PAM Jaya yang ditulis Andreas Harsono kayaknya cocok jadi model tulisan ekonomi.
Keep on working, brother... I wait for your writing
Poskan Komentar